blabla

blabla

Kamis, 28 Desember 2017

Rangkuman Tugas Softskill 1-3

  • SISTEM INFORMASI AUDITING

Audit teknologi informasi / Information technology audit adalah bentuk pengawasan dan pengendalian dari insfrastruktur teknologi informasi secara menyeluruh. Audit teknologi informasi ini dapat berjalan bersama-sama dengan audit finansial dan audit internal, atau dengan kegiatan pengawasan dan evaluasi lain yang sejenis. Pada mulanya istilah ini dikenal dengan audit pemprosesan data elektronik.

Dan sekarang audit teknologi informasi secara umum merupakan proses pengumpulan dan evaluasi dari semua kegiatan system informasi dalam sebuah perusahaan. Istilah lain dari audit teknologi informasi adalah audit computer yang banyak dipakai untuk menentukan apakah asset system informasi perusahaan itu telah bekerja secara efektif, dan integrative dalam mencapai target organisasinya.

  • COBIT

Control Objective for Information & Related Technology (COBIT) adalah sekumpulan dokumentasi best practice untuk IT Governance yang dapat membantu auditor, pengguna (user), dan manajemen, untuk menjembatani gap antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol dan masalah-masalah teknis IT (Sasongko, 2009).

Maksud utama dari COBIT adalah menyediakan kebijakan yang jelas dan praktik2 yang baik untuk IT governance dalam organisasi tingkatan dunia dan Membantu senior management memahami dan memanage resiko2 terkait dengan TI. COBIT melaksanakannya dengan menyediakan satu kerangka IT governance dan petunjuk control objective rinci untuk managemen, pemilik proses business , users, dan auditors.

Tujuan COBIT adalah membantu menemukan berbagai kebutuhan manajemen yang berkaitan dengan TI dan mengoptimalkan investasi TI Menyediakan ukuran atau kriteria ketika terjadi penyelewengan atau penyimpangan.

  • IT FORENSIK

IT Forensik atau yang lebih dikenal dengan Digital Forensik. Digital forensik merupakan turunan dari disiplin ilmu dari teknolgi informasi , dalam hal ini terutama dari ilmu IT security yang membahas tentang keamanan digital berupa temuan bukti digital setelah suatu peristiwa terjadi. Kata forensik memiliki arti yaitu membawa ke pengadilan. sehingga dapat dikatakan menurut istilah di bidang IT, Digital forensik merupakan ilmu yang menganalisa sebuah barang bukti yang berbentuk digital sehingga nantinya dapat dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan. Kegiatan forensik komputer sendiri adalah suatu proses mengidentifikasi, memelihara, menganalisa, dan mempergunakan bukti digital berdasarkan hukum yang berlaku.


Kamis, 30 November 2017

IT Forensik

Judul Jurnal : KEAMANAN JARINGAN DENGAN KOMPUTER FORENSIK
Penulis : Helmi Kurniawan
Abstrak :
Dalam satu dekade terakhir, jumlah kejahatan yang melibatkan komputer telah meningkat pesat, mengakibatkan bertambahnya perusahaan dan produk yang berusaha membantu penegak hukum dalam menggunakan bukti berbasis komputer untuk menentukan siapa, apa, dimana, kapan, dan bagaimana dalam sebuah kejahatan. 
Akibatnya, komputer forensik telah berkembang untuk memastikan presentasi yang tepat bagi data kejahatan komputer di pengadilan. Teknik dan tool forensik seringkali dibayangkan dalam kaitannya dengan penyelidikan kriminal dan penanganan insiden keamanan komputer, digunakan untuk menanggapi sebuah kejadian dengan menyelidiki sistem tersangka, mengumpulkan dan memelihara bukti, merekonstruksi kejadian, dan memprakirakan status sebuah kejadian. Namun demikian, tool dan teknik forensik juga dapat digunakan untuk tugas-tugas lainnya, seperti Operational Troubleshooting. Log Monitoring, Data Recovery, Data Acquisition dan Due Diligence/Regulatory Compliance.

Review :
Di bagian awal, rincian yang diberikan pada jurnal ini cukup detail, mulai dari penjelasan tentang forensik, kemudian penjelasan komputer forensik berikut juga dengan sejarahnya. Lalu yang melatar belakangi penulis dalam jurnal ini adalah, maraknya kejahatan komputer dalam satu dekade terakhir, sehingga dibutuhkan peran dari komputer forensik sebagai penanganan dari kasus-kasus kejahatan di dunia IT, pada jurnal ini juga dibahas kegunaan lain dari tool dan teknik forensik seperti misalnya, Operational Troubleshooting. Log Monitoring, Data Recovery, Data Acquisition dan Due Diligence/Regulatory Compliance.

Sabtu, 04 November 2017

Audit Teknologi Sistem Informasi

Audit Teknologi Sistem Informasi

1.1  Pengertian Teknologi Sistem Informasi Auditing

Audit teknologi informasi / Information technology audit adalah bentuk pengawasan dan pengendalian dari insfrastruktur teknologi informasi secara menyeluruh. Audit teknologi informasi ini dapat berjalan bersama-sama dengan audit finansial dan audit internal, atau dengan kegiatan pengawasan dan evaluasi lain yang sejenis. Pada mulanya istilah ini dikenal dengan audit pemprosesan data elektronik.
Dan sekarang audit teknologi informasi secara umum merupakan proses pengumpulan dan evaluasi dari semua kegiatan system informasi dalam sebuah perusahaan. Istilah lain dari audit teknologi informasi adalah audit computer yang banyak dipakai untuk menentukan apakah asset system informasi perusahaan itu telah bekerja secara efektif, dan integrative dalam mencapai target organisasinya.

1.2  Konsep-Konsep Auditing Sistem Informasi

Istilah auditing umumnya digunakan untuk menerangkan 2 jenis aktivitas yang berhubungan dengan computer, yaitu :
· Auditing melalui computer ( Auditing through the computer )
Untuk menerangkan proses penelaahan dan evaluasi pengendalian intern dalam suatu system pemrosesan data elektronik, biasanya dilakukan oleh auditor selama pengujian ketaatan ( compliance test )
· Auditing dengan computer ( Auditing with the computer )
Untuk menerangkan pemanfaatan computer oleh auditor untuk melaksanakan beberapa pekerjaan audit yang tidak dilakukan secara manual.
Kebanyakan audit meliputi pengujian ketaatan dan pengujian substantif. Maka kedua jenis auditing   ini   dilakukan baik oleh auditor intern   maupun   ekstern.


A. Struktur Audit Laporan Keuangan

Tujuan dan tanggung jawab utama auditor :
1. Auditor ekstern  :  Menilai kewajaran laporan keuangan suatu perusahaan, melayani para pemegang saham, pemerintah, dan masyarakat luas.
2. Auditor intern : Melayani kebutuhan manajemen perusahaan, hasil pekerjaannya juga akan menjadi bahan untuk penelaahan dan pekerjaan auditor ekstern pada saat mereka mengaudit laporan keuangan perusahaan.
Audit secara umum dubagi menjadi 2 komponen dasar :
1. Audit interim  : Menetapkan tingkat keandalan system pengendalian intern, biasanya diperlukan Pengujian Ketaatan untuk melihat eksistensi, efektivitas, dan pengecekan kontinuitas kegiatan yang mengandalkan system pengendalian intern.
2. Audit laporan keuangan  : Verifikasi langsung terhadap angka-angka laporan keuangan, berdasarkan hasil pengujian pengendalian intern dalam audit interim yang merupakan Pengujian Substantif.
                                      
B. Auditing diseputar Komputer

Secara umum, system akuntansi mencakup masukan, pemrosesan, dan keluaran. Dalam pendekatan sekitar-komputer ini pemrosesan diabaikan, selain itu dokumen-dokumen sumber untuk masukan ke system dipilih dan diikhtisarkan secara manual sehingga tidak dapat dibandingkan dengan keluaran. Setelah batch-batchdiproses dalam system, total akan diakumulasikan untuk menyajikan catatan yang diterima dan ditolak, koreksi-koreksinya, dan penyampaian ulangnya.
Dengan adanya kemajuan teknologi, pendekatan sekitar-komputer tidak lagi digunakan secara luas, pendekatan ini tidak banyak digunakan, secara implisit mengasumsikan bahwa komputer tidak dapat digunakan untuk mengubah catatan tanpa terdeteksi oleh prosedur-prosedur manual.

C. Auditing Melalui Komputer

Auditing melalui Komputer dapat didefinisikan sebagai proses verifikasi atas pengendalian dalam sebuah sistem terkomputerisasi. untuk verifikasi kelayakan  pengendalian intern dilakukan oleh auditor intern dan ekstern. Tujuan auditor ekstern biasanya diarahkan untuk laporan keuangan. Sedangkan auditor Intern melakukan audit kelayakan untuk memenuhi kebutuhan manajemen atau kebutuhan tertentu lainnya dalam perusahaan.


D. Auditing dengan Komputer

Auditing dengan komputer merupakan proses penggunaan teknologi informasi dalam auditing. Teknologi informasi digunakan untuk melaksanakan sejumlah pekerjaan audit yang dapat dilaksanakan pula secara manual. Penggunaan teknologi informasi penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi auditing.
Manfaat potensial penggunaan teknologi system informasi dalam audit meliputi :
1. Kertas kerja yang dihasilkan computer umumnya lebih mudah dibaca  dan lebih konsisten. Kertas kerja semacam itu lebih mudah disimpan, diakses, dan direvisi.
2. Waktu dapat dihemat dengan cara mengeliminasi penelusuran,  pengecekan silang, dan kalkulasi penghitungan rutin lainnya.
3. Kalkulasi, pembandingan, dan manipulasi data lainnya  menjadi lebih akurat.
4. Kalkulasi telaah analitis akan lebih efisien, dan lingkupnya dapat diperluas.
5. Informasi proyek seperti anggaran waktu dan pemonitoran waktu actual dan jumlah dianggarkan akan lebih mudah dihasilkan dan dianalisis.
6. Korespondensi audit standar seperti kuesioner dan daftar periksa, surat proposal, dan format-format laporan dapat disimpan dan dimodifikasi secara mudah.
7. Moral dan produktivitas dapat ditingkatkan dengan mengurangi waktu untuk tugas-tugas klerikal.
8. Peningkatan efektivitas biaya dapat diperoleh dengan menggunakan kembali dan memperluas aplikasi-aplikasi   audit      elektronik untuk audit   peristiwa   kemudian   ( Subsequent audit ).
9. Mampu meningkatkan Independensi personel sistem informasi.



1.3  Berbagai Jenis Audit Sistem Informasi

A. Pendekatan Umum Terhadap Audit Sistem Informasi

Sebagian besar pendekatan terhadap audit mengikuti tiga tahapan :

1. Telaahan dan evaluasi awal
Menentukan tindakan-tindakan yang akan dillakukan dalam audit yang mencakup keputusan-keputusan yang berkaitan dengan area-area tertentu yang di investigasi, penugasan bagi staf audit, teknologi audit yang akan digunakan, dan pembuatan anggaran waktu dan / biaya untuk audit.
Sumber daya audit biasanya terbatas, jadu umumnya tidak mungkin melakukan audit atas setiap aplikasi setiap tahun. Aplikasi-aplikasi yang mengandung kemungkinan penggelapan atau kekelirian-kekeliruan keuangan biasanya menjadi target suatu audit.

2. Telaahan dan evaluasi rinci
Dalam tahap audit ini, sasaran difokuskanpada temuan-temuan yang dipilih dalam audit.

3. Pengujian
Tahap pengujian dalam audit menghasilkan bukti ketaatan terhadap prosedur-prosedur.pengujuan dilakukan untuk memberikan jaminan memadai bahwa pengendalian intern ada dan bekerja sesuai dengan yang dinyatakan dalam dokumentasi sistem.

B. Audit Aplikasi Sistem Informasi
Pengendalian-pengendalian Aplikasi debagi menjadi tiga area umum, masukan, pemrosesan, pengeluaran. Audit aplikasi-aplikasi sistem informasi umumnya mencakup penelaahan pengendalian dalam tiga area tersebut.

C. Audit Pengembangan Sistem Aplikasi
Tiga area umumdalam audit yang berkaitan dengan proses pengembangan sistemadalah standar-standar pengembangan sistem, manajemen proyek, dan pengendalian pengubahan program.
Standar-standar pengembangan sistem, merupakan dokumentasi yang menjadi panduan perancangan, pengembangan, dan implementasi sistem aplikasi. Keberadaan standar-standar pengembangan sistem merupakan pengendalian umum utama dalam sistem audit.
Manajemen proyek, untuk mengukur dan mengendalikan perkembangan selama pengembangan sistem aplikasi. Manajemen proyek meliputi proyek dan penyeliaan proyek. Perencanaan proyekmerupakan pernyataan formal mengenai rencana-rencana kerja rinci dalam proyek. Penyeliaan proyek memonitor pelaksanaan aktifitas-aktifitas proyek.
Pengendalian pengubahan program, berkaitan dengan pemeliharaan program-program aplikasi. Tujuan pengendalian-pengendalian tersebut adalah untuk mencegah pengubahan yang tidak sah dan bersifat penggelapan terhadap program-program yang telah di uji dan di terima.

D. Audit atas Pusat layanan Komputer
Audit atas  pusat layanan komputer dilakukan sebelum setiap audit atas aplikasi dilakukan guna meyakinkan integritas umum lingkungan dimana aplikasi akan di fungsikan. Pengendalian-pengendalian umum atas operasi komputer juga membantu menjamin tidak adanya interupsi atas sumberdaya-sumberdaya pusat layanan komputer.
Audit akan dilakukan terhadap beberapa area. Salah satu area berkaitan dengan pengendalian-pengendalian lingkungan. Sistem-sistem mainframe yang berkaitan dengan pusat-pusat layanan komputerbesar umumnya memiliki persyaratan-persyaratan temperatur dan kelmbaban khusus yang membutuhkan penyejuk ruangan. Area lain adalah keamanan secara fisik atas pusat-pusat yang bersangkutan.
Rencana pemulihan bencana di pusat-pusat tanggung jawab harus ditelaah. Rencana pemulihan bencana harus mencakup hal-hal yang berkaitan dengan misalnya pernyataan tanggung jawab manajemen yang menyatakan siapa yang bertanggung jawab atas kejadian bencana, rencana-rencana tindakan darurat, penyediaan fasilitas dan pendukung data, pengendalian-pengendalian proses pemulihan.
Pengendalian-pengendalian manajemen atas operasi pusat layanan komputer juga merupakan area yang diperhatikan. Area ini juga mencakup teknik-teknik yang digunakan untuk menganggarkan faktor-faktor beban peralatan, statistik pemanfaatan protek, dan persyaratan-persyaratan anggaran dan rencana penetapan staf, dan rencana perolehan peralatan.
     Pengujian ketaatan yang akan digunakan dalam seluruh area audit tersebut adalah telaahan atas bukti-bukti tang didokumentasikan; wawancara dengan pemakai, manajemen, dan karyawandepartemen sistem; observasi langsung; dan tanya-jawab.


1.4  Tahap – Tahap Dalam Audit Teknologi Sistem Informasi

1. Tahap Pemeriksaan pendahuluan

Sebelum auditor menentukan sifat dan luas pengujian yang harus dilakukan, auditor harus memahami bisnis auditi (kebijakan, struktur organisasi, dan praktik yang dilakukan). Setelah itu, analisis resiko audit merupakan bagian yang penting dan berusaha untuk memahami pengendalian terhadap transaksi yang diproses oleh aplikasi tersebut. Pada tahap ini pula auditor dapat memutuskan apakah audit diteruskan atau mengundurkan diri dari penugasan audit.
       
     2.  Tahap Pemeriksaan Rinci

Pada tahap ini auditnya berupaya mendapatkan informasi lebih mendalam untuk memahami pengendalian yang diterapkan dalam sistem komputer klien. Auditor harus dapat memperkirakan bahwa hasil audit pada akhirnya harus dapat dijadikan sebagai dasar untuk menilai apakah struktur pengendalian intern yang diterapkan dapat terpercaya atau tidak. Kuat atau tidaknya pengendalian tersebut akan menjadi dasar bagi auditor dalam menentukan langkah selanjutnya.
         
      3. Tahap Pengujian Kesesuaian

Dalam tahap ini, dilakukan pemeriksaan secara terinci saldo akun dan transaksi Informasi yang digunakan berada dalam file data yang biasanya harus diambil menggunakaan software CAATTs(Computer Assisted Audit Tools and Techniques). Dengan kata lain, CAATTs digunakan untuk mengambil data untuk mengetahui integritas dan kehandalan data itu sendiri.

4. Tahap Pengujian Kebenaran Bukti

Tujuan pada tahap pengujian kebenaran bukti adalah untuk mendapatkan bukti yang cukup kompeten. Pada tahap ini, pengujian yang dilakukan adalah (Davis at,all. 1981) :
1. Mengidentifikasi kesalahan dalam pemrosesan data
2. Menilai kualitas data
3. Mengidentifikasi ketidakkonsistenan data
4. Membandingkan data dengan perhitungan fisik
5. Konfirmasi data dengan sumber-sumber dari luar perusahaan.
      
      5.Tahap Penilaian Secara Umum atas Hasil Perjuangan

Pada tahap ini auditor telah dapat memberikan penilaian apakah bukti yang diperoleh dapat atau tidak mendukug informasi yang diaudit. Hasil penilaian tersebut akan menjadi dasar bagi auditor untuk menyiapkan pendapatannya dalam laporan auditan.
Auditor harus mengintergrasikan hasil proses dalam pendekatan audit yang diterapkan audit yang diterapkan. Audit meliputi struktur pengendalian intern yang diterapkan perusahaan, yang mencakup :

(1)    Pengendalian umum
(2)    Pengendalian aplikasi, yang terdiri dari :
(a)    Pengendalian secara manual
(b)   Pengendalian terhadap output sistem informasi , dan
(c)    Pengendalian yang sudah diprogram


Daftar Pustaka

Jumat, 20 Oktober 2017

Analisis Teknologi Informasi menggunakan framework COBIT 4.1 (Studi Kasus:LMS SMK Negeri 2 Kediri)


Implementasi Sistem dan Hasil
Beberapa tahapan dalam melakukan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Melakukan studi lapangan penerapan teknologi informasi Learning Management System dan mendapatkan informasi pendukung meliputi Visi dan Misi Sekolah,struktur organisasi khususnya yang terlibat dalam penerapan LMS,dan strategi sekolah.
2. Pemetaan lingkup Domain DS ( Delevery & Support) dan ME(Monitoring & Evaluate) dalam penerapan sistem informasi LMS.
3. Penyusunan kuesioner dalam cangkupan domain DS dan ME
4. Membuka akses kuesioner kepada siswa, guru dan karyawan secara online sehingga bisa diisi dan dikerjakan kapanpun dan dimanapun berbasis web
5. Pengunduhan hasil kuesioner dari database hasil isian siswa,guru dan karyawan
6. Menganalisa hasil kuesioner untuk menghitung tingkat kematangan
7. Melakukan analisa terhadap aktifitas yang telah dikerjakan
8. Membuat rekomendasi terhadap analisa tingkat kematangan

Berdasar observasi dan wawancara,pengukuran tingkat kematangan terhadap penggunaaan system LMS di SMK Negeri 2 Kediri dipilih dengan menggunakan Cobit 4.1 domain Deliver and Support dan Monitor and Evaluate

Tabel 3.1 Domain Deliver and Support , Monitor and Evaluate
Domain

Control Objectives
DELIVER AND SUPPORT
DS1 Define and manage Service Levels

DS2 Manage Third-party Services

DS3 Manage Performance and Capacity

DS4Ensure Continuous and service

DS5 Ensure System Security

DS6 Identy and Allocate Costs

DS7 Educate and Train Users

DS8 Manage Servce Desk and Incidents

DS9 Manage the Configuration

DS10 Manage Problems

DS11 Manage Data

DS12 Manage the Physical Environment

DS13 Manage Operations



MONITOR AND EVALUATE
ME1 Monitor and Evaluate Performance

ME2 Monitor and Evaluate Internal Control

ME3 Ensure Compliance With External


Reqirements

ME4 Provide IT Governance




Kuesioner dalam penelitian ini dibuat dengan model pengukuran ordinal skala likert, Ukuran dalam model ini meliputi ukuran ordinal dan ukuran nominal. Ukuran ordinal merupakan angka yang diberikan yang mengartikan tingkatan, Ukuran Nominal digunakan untuk mengurutkan obyek dari terendah sampai tingkat tertinggi,Ukuran ini tidak memberikan nilai absolut terhadap obyek tersebut tetapi hanya memberikan urutan tingkatan dari tingkat rendah ketingkat tertinggi saja. Nilai Tingkatan yang digunakan terdapat pada tabel 3.1

Tabel 3.2 Nilai Tingkatan
Nilai
Keterangan
1
Sangat Tidak Bisa


2
Tidak Bisa


3
Cukup


4
Baik


5
Sangat Baik



Sedangkan untuk nilai absolut yang merupakan nilai model maturity dapat dilihat dalam tabel 3.3 berikut

Tabel 3.3 Nilai Tingkatan
Nilai
Keterangan
0
Tidak ada


1
Inisialisasi


2
Dapat diulang


3
Ditetapkan


4
Diatur


5
Dioptimalisasi



Realisasi antara Nilai Tingkatan dan Nilai absolut yang dilakukan dengan membentuk indexs dengan menggunakan rumus matematik sebagai berikut:

Indexs=

Untuk Skala pembuatan indexs dalam pemetaan model maturity berdasar tabel berikut

Tabel 3.4 Pembulatan Indexs
Skala Pembulatan

Tingkat model Maturity


4,51 – 5.00
5 - Dioptimalisasi



3,51 – 4,50
4
- Diatur



2,51 – 3,50
3
- Ditetapkan

1,51 – 2,50
2
– Dapat diulang


0,51 – 1,50
1 - Inisialisasi



0,00 – 0,50
0
– Tidak ada




Hasil Penyebaran kuesioner
Hasil perhitungan Kuesioner untuk menentukan tingkat model maturity masing-masing proses adalah sebagai berikut:
Hasil Kuesioner dengan responden berjumlah 61 yang terdiri dari siswa , guru beserta karyawan sebagai pengguna system ,Perhitungan Analisis TI terhadap tingkat kematangan LMS SMK NEGERI 2 KEDIRI adalah sebagai berikut

Tabel 3.5 Jawaban Responden x pertanyaan terhadap proses Monitor and Evaluate
Proses
Jumlah
Jumlah
Pertanyan
Jawaban




MONITOR AND EVALUATE


ME1
427
1616



ME2
427
1419



ME3
305
1212



ME4
549
1929




Tabel 3.5 Jawaban Responden x pertanyaan terhadap proses Deliver and Support
Proses
Jumlah
Jumlah
Pertanyan
Jawaban




DELIVER AND


SUPPORT





DS1
366
1183



DS2
305
882



DS3
244
780



DS4
244
733



DS5
244
776



DS6
305
951



DS7
366
1285



DS8
183
584



DS9
366
1211



DS10
122
406



DS11
244
856



DS12
244
850



DS13
183
626

Tabel 3.7 Tabel Proses ME terhadap Perhitungan Tingkat model Maturity


Tingkat
Proses
Indexs
Model


Maturity



MONITOR AND


EVALUATE


Proses Monitor
3.78
4
kontrol internal
3.32
3
Kepercayaan
3.97
4
Audit TI
3.51
4

Berdasar fakta dari analisa perhitungan tingkat Maturity maka analisa dari proses Monitor and Ealuate adalah:
1.ME1 Proses Monitor sesuai dengan data tingkat maturity level dengan nilai 4(Diatur) bahwa monitoring kerja dan kinerja system LMS sudah dilakukan secara terpadu dengan hasil terukur, peningkatan monitring dapat dilakukan agar lebih optimal terhadap kinerja systen.
2.ME2 Kontrol Internal sesuai dengan hasil tingkat level maturity yaitu level 3 (ditetapkan) maka analisa system LMS perlu dibuatkan kembali pengaturan lingkup internal seperti SDM meliputi admin teknisi dan semua yang terlibat dalam system yang lebih terencana agar peningkatan managamen internal lebih baik.
3.ME3 Kepercayaan sesuai dengan nilai maturity level 4(diatur) kepercayaan pengguna yaitu siswa dan guru sudah menggunakan secara baik dan terarah, mengaturan dan pengembangan yang yang dilakukan secara kesinambungan terarah terkontrol dan lebih baik lagi diharapkan akan lebih membuat user merasa puas dan menambah kepercayaan terhadap kinerja dan ketahanan system.
4.ME4 AUDIT TI hasil dari tingkat level maturity yang menunjukan level 4(diatur) maka analisa monitoring dan audit system pada saat ini sudah dilakukan, supaya kinerja dan kehandalan system lebih baik dan bertahan beberapa audit memerlukan suatu rumusan atau solusi agar peningkatan system tetap terjaga dan lebih optimal

Tabel 3.8 Tabel Proses DS terhadap Perhitungan Tingkat model Maturity
Proses
Index
Tingkat
Model
s

Maturity





DELIVER AND SUPPORT


Mengatur tingkat layanan
3.23
3
Mengelola layanan pihak


ke3
2.89
3
Mengelola kinerja dan


kapasitas
3.20
3
Kinerja berkelanjutan
3.00
3
Keamanan system
3.18
3
Alokasi biaya
3.12
3
Training siswa dan guru
3.51
4
Layanan dan Insiden
3.19
3
Mengelola konfigurasi
3.31
3
Mengelola Masalah
3.33
3
Mengelola Data
3.51
4
Mengelola Lingkungan
3.48
3
Mengelola Operasi LMS
3.42
3

Dari data fakta analisa perhitungan tingkat Maturity terhadap domain Deliver and Support diatas beserta masukan terhadap managemen LMS :
1.DS1 Mengatur tingkat layanan dengan maturity level memperoleh 3 (ditetapkan) mempunyai kesimpulan pada proses ini beberapa kebijakan sudah mengarah ke hal yang benar, peningkatan dapat dilakukan dengan melakukan evaluasi dan perbaikan dalam hal khususnya yang menyangkut service kepada user dapat meliputi kondisi jaringan yang terjaga dan kondisi koneksi yang stabil.
2.DS2 Mengelola layanan pihak ketiga dengan maturity level 3 (ditetapkan) mempunyai kondisi system penunjang LMS harus lebih ditingkatkan agar kepuasan user meningkat dalam hal ini contohnya kondisi internet sebagai penunjang akses public harus stabil dan mempunyai bandwith cukup agar kondisi pembelajaran Daring lebih optimal.
3.DS3 Mengelola Kinerja dan Kapasitas dengan maturity level 3(ditetapkan) menggambarkan pengelola system mempunyai kapasitas baik, peningkatan kearah lebih baik dapat dilakukan dengan memberi perhatian tambahan dengan penambahan tunjangan dan support system oleh pihak top management.
4.DS4 Kinerja Berkelanjutan dengan maturity level 3(ditetapkan) mengartikan penambahan support terhadap jajaran yang terlibat dalam management perlu dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan kekuatan, ketahanan system LMS di SMK Negeri 2 Kediri, support bisa meliputi tunjangan honor yang naik dan kebutuhan pergantian peralatan yang sesuai standard perkembangan teknologi.
5.DS5 Keamanan System, proses ini memperoleh tingkat level maturity 3 (ditetapkan) mempunyai arti bahwa standard keamanan system telah bekerja dengan baik, peningkatan keamanan perlu dilakukan dengan membuat rancangan tambahan filtur agar celah yang dapat mengganggu system bisa di hindari, salah satunya celah keamanan yang berhubungan dengan pola siswa ujian dan pembelajaran jarak jauh agar mempunyai integritas kepercayaan yang lebih tinggi.
6.DS6 Alokasi Biaya maturity level menunjukan nilai 3(ditetapkan) mempunyai arti beberapa kebijakan yang berhubungan dengan pembiayaan perlu dialakukan penetapan ulang agar arah pendanaan lebih baik dan sesuai peruntukan, pembiayaan pengadaan peralatan penunjang teknologi perlu dilakukan pengkajian ulang agar efisiensi dan optimalisasi system lebih baik.
7.DS7 Training Siswa dan Guru dengan maturity level menunjukan level 4(diatur) mengartikan bahwa pembekalan dan pelatihan yang diadakan untuk guru dan siswa diterima dengan baik, training yang meliputi pengoperasian sytem LMS dan pengguanaan Daring oleh siswa berjalan dengan baik, beberapa training yang menunjukan progress baik perlu di lakukan lagi untuk siswa atau karyawan baru pengguna LMS , beberapa kebijakan ditata ulang agar system lebih baik .
8.DS8 Layanan Insiden dengan maturity level menunjukan level 3(ditetapkan) mengartikan beberapa penyebab yang mempengaruhi gangguan dalam system LMS perlu dikaji dan ditetapkan ulang agar gangguan yang menyebabkan system LMS tidak berjalan semestinya.

Daftar Pustaka :
[1] COBIT, F. PROGRAM S2 MAGISTER TEKNIK INFORMATIKA PROGRAM PASCASARJANA STMIK AMIKOM YOGYAKARTA.
[2]   COBIT, P. T. M. K. P. MENGGUNAKAN APLIKASI BERBASIS WEB (Studi Kasus di STMIK AMIKOM Yogyakarta).
[3]  Effendi, D. (2008). Perancangan IT Governance Pada Layanan Akademik di UNIKOM (Universitas Komputer Indonesia ) Menggunakan COBIT (Control objective For Information dan Related Technology).  Versi 4.0 (Doctoral dissertation, Tesis pada Institut Teknologi Bandung).
[4]  Indrajit, E.R. 2001. Pengantar Konsep Dasar Manajemen Sistem dan Teknologi Informasi. Aptikom.
[5]   Indrajit. E.R. 20013. Diktat Kuliah : Memahami IT Management dan IT Governance. S2 PJJ Aptikom.